Beranda | Artikel
Mengawal Pergaulan Anak di Dunia Maya
9 jam lalu

Mengawal Pergaulan Anak di Dunia Mayamerupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Tarbiyah Jinsiyyah (Pendidikan Seksual Untuk Anak Dan Remaja Dalam Islam). Kajian ini disampaikan pada Selasa, 25 Safar 1448 H / 11 Agustus 2026 M.

Kajian Tentang Mengawal Pergaulan Anak di Dunia Maya

Anak belum memiliki ilmu dan pengalaman yang cukup untuk memilah lingkungan dan pergaulan yang baik serta cocok baginya. Orang tua harus bersungguh-sungguh membimbing anak mencari teman dan lingkungan yang baik. Lingkungan yang buruk pasti memberi pengaruh besar.

Dalam hadits disebutkan kisah seorang pembunuh yang telah membunuh seratus orang. Ketika bertemu seorang ahli ilmu, ia ditunjukkan sebab jatuhnya ke dalam dosa besar tersebut, yaitu tinggal di lingkungan yang tidak baik. Ahli ilmu itu menganjurkannya segera meninggalkan negeri tersebut dan pergi ke negeri lain yang lebih baik lingkungan dan pergaulannya.

Kisah ini menunjukkan besarnya pengaruh lingkungan dan pergaulan terhadap seseorang. Karena itu, ia dianjurkan berhijrah dari negeri tersebut dan mencari tempat lain yang lebih baik.

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang berada di atas agama teman dekatnya. Hendaklah salah seorang dari kalian memperhatikan siapa yang ia jadikan teman dekat.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Makna hadits ini, sebagaimana dijelaskan para ulama, ialah bahwa agama dan akhlak seseorang dapat diukur dari orang-orang yang menjadi teman dekatnya. Jika teman-temannya adalah orang baik dalam agama dan akhlak, kemungkinan ia akan tertular kebaikan tersebut. Jika teman-temannya adalah orang fasik dan pelaku maksiat, sedikit banyak ia akan terpengaruh oleh keburukan mereka.

Pengaruh lingkungan dan pergaulan sangat besar. Ia dapat mendatangkan keburukan, tetapi juga dapat mendatangkan kebaikan apabila seseorang berada dalam lingkungan yang tepat.

Perumpamaan Teman Baik dan Teman Buruk

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً

“Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu hadiah, atau engkau membeli darinya, atau setidaknya engkau mendapatkan aroma wangi darinya. Adapun pandai besi, mungkin ia akan membakar pakaianmu, atau setidaknya engkau mendapatkan bau tidak sedap darinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bahaya Salah Memilih Pergaulan

Sebagai contoh, ketika anak dekat dengan teman yang merokok, ia bisa ikut-ikutan merokok. Banyak anak akhirnya merokok karena berteman dengan para perokok. Demikian pula banyak remaja terjerumus dalam dunia narkotika atau narkoba karena berteman dengan pemakai atau pengedarnya, lalu terkena imbasnya.

Karena itu, orang tua harus memperhatikan lingkungan dan pergaulan anak. Orang tua harus menyeleksi, memberi peringatan, serta menetapkan perintah dan larangan. Walaupun tampak mengekang, hakikatnya itu bukan pengekangan, melainkan pengarahan demi kemaslahatan anak.

Anak belum memahami bahaya lingkungan dan pergaulan. Sering kali ia baru menyadari setelah menjadi korban. Karena itu, sebelum menyesal, orang tua harus benar-benar menjaganya. Mencegah lebih baik daripada memperbaiki sesuatu yang sudah rusak.

Salah satu penyesalan pada hari kiamat adalah penyesalan karena lingkungan dan pergaulan. Allah ‘Azza wa Jalla menceritakannya dalam Surah Al-Furqan ayat 27 sampai 29.

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا ‎﴿٢٧﴾‏ يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا ‎﴿٢٨﴾‏ لَّقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي ۗ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنسَانِ خَذُولًا ‎﴿٢٩﴾

“Ingatlah pada hari ketika orang dzalim menggigit kedua tangannya seraya berkata, ‘Aduhai, seandainya dahulu aku mengambil jalan bersama Rasul. Aduhai, celakalah aku. Seandainya dahulu aku tidak menjadikan si fulan sebagai teman dekat. Sungguh, dia telah menyesatkanku dari peringatan setelah peringatan itu datang kepadaku. Setan memang selalu membiarkan manusia terlantar.’” (QS. Al-Furqan [25]: 27-29)

Ayat tersebut menggambarkan bahwa pada hari kiamat ada manusia yang menyesal karena salah memilih lingkungan dan pergaulan. Pergaulan itu menyeretnya kepada maksiat, bidah, atau syirik karena ia dekat dengan orang-orang yang melakukannya.

Manusia memang dituntut untuk bergaul. Seseorang tidak boleh kurang pergaulan, tetapi juga tidak boleh menjadi korban pergaulan. Anak-anak jangan sampai menjadi korban pergaulan karena kelengahan dan keabaian orang tua.

Sebagian orang tua membebaskan dan membiarkan anak dengan pernyataan yang seolah-olah baik, seperti tidak boleh mengekang anak, tidak boleh membatasi pergaulan anak, dan membiarkan anak mencari pergaulannya sendiri karena anak perlu bergaul. Pernyataan semacam itu sebenarnya menunjukkan kelemahan, ketidakmampuan, atau ketidakmauan orang tua untuk mengawal lingkungan dan pergaulan anaknya. Wallahu a’lam bish-shawab.

Mengawal Pergaulan Anak di Dunia Maya

Lingkungan pergaulan anak di dunia maya juga perlu dikawal. Di dunia nyata, orang tua lebih mudah mengawasi: anak berteman dengan siapa, pergi ke mana, duduk bersama siapa, dan berkumpul dengan siapa. Semua itu masih dapat dilihat, dikontrol, dan diawasi.

Pergaulan di dunia maya tidak kalah penting untuk diawasi. Orang tua perlu memperhatikan anak berkomunitas dengan siapa. Dunia maya adalah dunia abu-abu, dunia tanpa batas, dan sering kali tidak jelas. Hari ini, pergaulan manusia di dunia maya bisa lebih luas daripada pergaulan di dunia nyata.

Dunia maya memiliki keasyikan tersendiri. Teman-teman di dunia maya mungkin tidak pernah membuat anak jengkel, selalu mengikuti kemauannya, dan selalu tampak cocok dengannya. Berbeda dengan teman di dunia nyata yang kadang berselisih, membuat jengkel, lalu dibatasi. Dunia maya menjadi dunia tanpa batas.

Banyak orang terkecoh oleh tampilan di dunia maya. Ada orang tua yang mendapati anak perempuannya bergaul dengan para perempuan di dunia maya. Profil akun-akun itu terlihat perempuan. Namun, di balik itu, banyak akun sebenarnya milik laki-laki yang memakai profil perempuan.

Dunia maya penuh dengan tipuan. Banyak orang terkelabui oleh pergaulan di dunia maya hingga berujung pada tindakan kriminal dan kejahatan. Banyak yang menjadi korban. Ini bukan berita isapan jempol, melainkan kenyataan. Pergaulan di dunia maya sangat berbahaya.

Dengan segala kepolosannya, anak mudah terjebak dan dijebak. Ia mudah dieksploitasi serta dimanipulasi.

Anak dapat larut dalam pergaulan dunia maya seolah-olah terhipnotis. Keadaan ini berbahaya bila dibiarkan tanpa kendali dan pengawasan. Karena itu, orang tua tidak boleh abai. Pergaulan anak di dunia maya perlu dikontrol dan diawasi.

Membatasi anak dalam pergaulan dunia maya bukan perkara mudah. Dibutuhkan kejujuran, keterusterangan, dan keterbukaan anak kepada orang tua. Masalah muncul ketika anak sudah tertutup, atau orang tua tidak lagi menjadi sosok yang dipercaya. Anak mulai menjaga jarak, sehingga pengawasan terhadap pergaulan dunia mayanya menjadi sulit.

Dalam kondisi seperti itu, orang tua harus tampil sebagai sosok yang dipercaya anak. Anak perlu yakin bahwa orang tua hadir di sampingnya untuk kemaslahatan dan kebaikannya.

Kelemahlembutan sebagai Jalan Mendekati Anak

Sebagian orang tua bersikap keliru. Mereka terlalu kasar atau berlebihan. Niatnya menyayangi anak, tetapi caranya salah, sehingga anak tidak dekat dengannya. Anak tidak selalu mampu memahami kasih sayang yang tidak tampak dalam sikap orang tua. Karena itu, kelemahlembutan sangat dibutuhkan.

Manusia senang diperlakukan dengan lembut dan akrab. Tujuan orang tua memang sama, yaitu melindungi anak. Namun, cara yang kasar dapat merusak kedekatan. Anak yang terus-menerus dihadapkan pada vonis, hukuman, dan sanksi akan menjaga jarak. Ia tidak lagi percaya kepada orang tua karena setiap urusan dengan orang tua dianggap akan berakhir dengan hukuman, kesalahan, atau celaan.

Pendekatan yang selalu negatif membuat anak merasa akan dihujat oleh orang tuanya. Padahal, mendekati anak bukan untuk satu atau dua momen saja, melainkan terus-menerus tanpa batas. Jika pendekatannya keliru, hubungan berikutnya akan menjadi sulit.

Kesulitan itu makin besar bila sudah tercipta jurang pemisah antara anak dan orang tua. Anak tampak menjaga jarak, kurang akrab, mulai sembunyi-sembunyi, tidak ada obrolan saat bertemu, menghindar, sementara orang tua terlihat cuek. Komunikasi baru terjadi ketika ada hukuman, sanksi, atau kesalahan. Pola seperti ini mempersulit pembinaan anak.

Kelemahlembutan membutuhkan kesabaran. Tanpa kesabaran, orang tua sulit bersikap lembut. Kesantunan dan kelemahlembutan berjalan bersama. Diperlukan dada yang lapang dan pikiran yang jernih agar orang tua mampu bersabar dan bersikap lembut.

Ketika anak melakukan kesalahan dan tidak sesuai dengan harapan, orang tua tentu kecewa. Kesalahan anak dapat menyesakkan hati. Namun, orang tua tetap harus berpikir jernih tentang cara mengatasinya. Kehadiran orang tua di sisi anak bertujuan menyelesaikan masalahnya, meskipun terasa berat.

Download mp3 Kajian

Mari turut membagikan link download kajianBahaya Salah Memilih Pergaulan” ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56466-mengawal-pergaulan-anak-di-dunia-maya/